Perawatan Paliatif Juga Terkait Psikologis dan Spiritual

Perawatan Paliatif Juga Terkait Psikologis dan Spiritual

Perawatan Paliatif Juga Terkait Psikologis dan Spiritual

Perawatan Paliatif Juga Terkait Psikologis dan Spiritual – Ketika penyakit ganas menyerang, bantuan medis tidak dapat menolong dan nyawa pun terancam. Hal seperti itu sering terjadi dalam masyarakat, terutama di kalangan bawah. Namun, terdapat suatu perawatan yang dapat mengurangi beban serta membantu kondisi psikologis orang yang mengidap penyakit mematikan. Perawatan itu dinamakan dengan paliatif.

Perawatan paliatif itu sendiri masih jarang terdengar di masyarakat, tidak sedikit warga yang belum mengetahui jenis perawatan itu. Padahal, tipe perawatan paliatif itu dapat mengurangi beban psikologis yang dirasakan pengidap penyakit seperti kanker atau HIV AIDS. Palliative care atau perawatan paliatif merupakan tipe perawatan yang tidak hanya menekankan pada gejala fisik saja, tetapi perawatan ini juga fokus terhadap aspek-aspek emosional, psikososial dan ekonomis, serta spiritual untuk memenuhi kebutuhan akan perbaikan kualitas hidup seorang pasien.

Perawatan paliatif bukanlah sekadar merawat penyakit seseorang. Lebih dari itu, dibutuhkan pendampingan yang lebih dalam, terutama soal emosional pasien, khususnya pasien anak.

“Perawatan paliatif butuh pelatihan. Bukan hanya sekadar (menangani) keluhan nyeri atau sesak napas, tapi juga psikologis,” kata Dr. Endang Windiastuti dari Divisi Hematologi Onkologi Anak RSUPN cipto Mangunkusumo.

Menurut Endang, pengasuhan secara psikologis dan spiritual dalam perawatan paliatif haruslah dilakukan oleh orang-orang yang sudah terlatih.

“Spiritual dan psikologis itu penting sekali. Dan itu harus diampu oleh orang yang memang sudah terlatih untuk berkomunikasi, memberitahu, memberi semangat, seperti itu. Itu yang membedakannya dengan perawatan medis biasa,” ujar Endang.

Berdasarkan badan kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO), terdapat lebih dari 40 juta orang di dunia yang membutuhkan perawatan paliatif, namun hanya 14 persen saja yang baru memperolah perawatan tersebut. Sama halnya di Indonesia, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui perwatan paliatif itu sangat penting dalam upaya peningkatan kualitas hidup pasien, bahkan WHO sendiri mengakui hal tersebut.

Endang juga mengatakan, saat ini pendidikan untuk perawatan paliatif sendiri masih tersebar dan tidak terfokus menjadi satu bidang yang berdiri sendiri. Hal inilah yang menyulitkan tumbuhnya perawatan paliatif di Indonesia.

Padahal, ini adalah sebuah kebutuhan bagi para pasien yang tidak bisa sembuh dari penyakitnya.

“Belum sempurna, tapi perawatan asuhan paliatif anak sudah dirasakan suatu kebutuhan, ” kata Endang menambahkan.

Perawatan paliatif, terutama pengasuhannya penting bagi para pasien dengan penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Selama ini, masyarakat kerap memandang perawatan paliatif sebagai bentuk “pasrah” untuk menunggu ajal menjemput pasien.

“Ini bukan tentang kematian, ini tentang kehidupan, tidak ada anak yang boleh meninggal dengan sakit dan menderita,” tambah Chief Executive Officer International Children’s Palliative Care Network, Julia Downing.