Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Bali

Bali – Kehidupan sosial masyarakat di Bali dan kebudayaannya sangatlah lekat dengan pengaruh Agama Hindu, namun sebagai kearifan lokal dijelaskan bahwa Agama Hindu yang berkembang di Bali dalam sejarah raja kerajaan Bali oleh Senopatih Ardi Senggoro Macan dalam artikelnya disebutkan sudah bercampur dengan unsur budaya asli.

Salah satu contoh paling nyata yang dapat dilihat adalah bahwa dewa tertinggi dalam Agama Hindu-buddha bukanlah Syiwa, melainkan sang Hyang Widhi yang sama kedudukannya dengan Sang Hyang Wenang di Jawa.

Baca juga : Borobudur Kembangkan Budaya dan Religi

Selain itu, masyarakat Bali juga mengenal dewa-dewa setempat, seperti dewa air dan dewa gunung. Di bawah desa, mereka juga memuja roh nenek moyang dan cikal bakal. Penghormatan leluhur disebut Pitra Yadnya.

Sebagai tempat suci, dahulu digunakan candi. Tetapi, sejak berdirinya kerajaan Gelgel dan Klungkung, pengguna sebagai tempat suci ditiadakan.

Sebagai pengganti fungsi candi dibuatkan kuil serupa dengan kompleks bangunan yang sering disebut pura.

Pada waktu upacara, dewa atau roh yang dipuja diturunkan dari surga, alam swah loka dan di temapatkan dalam kuil untuk di beri sesaji sebagai bentuk penghormatan upacara itu, misalnya
– Pada hari Kuningan (hari turunnya dewa dan pahlawan)
– Pada hari Galungan
– menjelang Tahra dan Saka,
– dan hari Saraswati (pelindung kesusastraan).

Pura dalam lingkungan kerajaan disbeut sebgaai Pura Dalam, bentuknya sama seperti candi Bentar dan dimaksudkan sebagai kuil kematian.

Adapun untuk keluarga raja dibuatkan pura khusus yang disebut Sanggah atau Merajan. Di Bali, dewa tidak di patungkan. Adanya patung dewa di Bali diyakini sebagai bukti adanya pengaruh Jawa Kuno.

Di dalam kuil dibuatkan tempat tertentu yang disediakan untuk tempat turunnya dewa atau roh nenek moyang yang telah menjalani prosesi ngaben.

Ngaben sebagai budaya pembakaran mayat atau tulang surga. Pembakaran mayat adalah suatu kebiasaan di India yang diadaptasi di Bali.

Roh yang telah menjalani upacara ngaben dianggap telah suci. Ida Sang Hyang Widhi sebagai dewa tertinggi tidak dibuatkan pura khusus, namun pada setiap kuil dibuatkan bangunan suci untuknya berbentuk Padmasana atau Meru beratap.

Masyarakat Bali mengenal pembagian golongan atau kasta yang terdiri dari brahmana, ksatria, dan waisya.
– Ketiga kasta tersebut dikenal dengan Triwangsa.
– Di luar ketiga golongan tersebut masih ada lagi golongan yang disebut jaba, yaitu anggota masyarakat yang tidak memegang pemerintahan.
– Tiap-tiap golongan mempunyai tugas dan kewajiban yang tidak sama dalam bidang keagamaan.

Pada masa pemerintahan Anak Wungsu, dikenal adanya beberapa golongan pekerja khusus, di antaranya pande besi, pande emas, dan pande tembaga. Mereka bertugas membuat alat-alat pertanian, alat-alat rumah tangga, senjata, perhiasan, dan sebagainya.

Hubungan dengan Jawa sudah ada sejak zaman pemerintahan Udayana dan Gunapriya, dibuktikan dengan adanya prasasti-prasasti raja-raja Bali yang memakai bahasa Jawa Kuno.

Sumber : sejarahharirayahindu.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *