Gereja Kosong dan Hati Pastor

Gereja Kosong dan Hati Pastor

Gereja Kosong dan Hati Pastor yang Meleleh di Misa Online

Gereja Kosong dan Hati Pastor yang Meleleh di Misa Online – Sebentar lagi Paskah, namun tak ada umat yang berkumpul untuk bersama-sama mempersiapkan perayaan Ekaristi (Perjamuan Kudus) di pekan suci jelang Paskah.

Pastor Romanus Romas yang biasanya menyambut umat sebelum misa dimulai kini harus menatap nanar ke arah bangku-bangku umat yang kosong di Katedral Santa Maria Palangka Raya. Sejauh matanya memandang dia hanya melihat beberapa petugas Ekaristi, bangku kosong, dan kamera.

Ini adalah pertama kali baginya melakukan misa online tanpa umat. “Sedihnya campur aduk saja. Yang saya bayangkan waktu itu seperti dunia ini lumpuh. Dan saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk itu,” ucapnya kepada Daftar Poker IDN.

“Saya ‘dipaksa’ untuk berbicara di depan benda mati (kamera). Rasanya kaku sekali. Hal ini berbeda dengan misa bersama umat, saya bisa memandang mereka, dan saya tau apa respon mereka kepada saya. Ini tantangan yang berat buat saya.”

Bukan cuma soal tak ada umat yang merayakan misa bersamanya, rasa grogi di depan kamera juga membuat perasaannya campur aduk. Palangka Raya sendiri diakuinya sudah masuk ke dalam zona merah Covid-19. Maka kepatuhan akan imbauan pemerintah pun harus dilakukan termasuk untuk stay at home dan beribadah di rumah.

“Saya tidak tahu apakah di Palangka Raya sudah mulai rapid test itu atau belum. Tapi saya setia pada perintah negara dan Gereja: Sosial distacing dan Physical distancing.

Tak dimungkiri, sebagai pelayan umat, pastor memang seharusnya mendapat kesempatan untuk menjalani rapid test Covid-19. “Kami di pastoran belum ada info, entah di keuskupan tapi sepertinya juga belum sih.”

Pastor Roman tak menampik, ada sebuah kerinduan untuk memandang dan interaksi dengan umat di gereja. Rindu bercengkrama dan juga tertawa bersama. Namun semua itu harus ditahannya.

Pastor Romanus nyatanya berbahagia

Di hari-hari biasa mungkin tak terlalu terasa namun kerinduannya memuncak saat perayaan Ekaristi dimulai. Bukan cuma saat homili, dia mengaku saat komuni adalah saat di mana dia paling merindukan kehadiran umat, dan tentu saja Tuhan.

“Grogi, karena takut salah gaya di depan kamera. Berdiri diatur sedemikian rupa, duduk diatur, tatapan mata diatur, bicara diatur oleh juru gaya. Iya grogilah.”

Mempersiapkan misa online setelah adanya imbauan untuk physical distancing tentunya tak mudah, apalagi untuknya yang baru pertama kali. Kesan pertama misa online yang membuatnya emosional ini tak lantas menyurutkan keinginannya untuk tetap melayani. Misa online tetap dijalankannya bergantian dengan pastor-pastor lainnya di gereja tersebut. Semuanya demi pelayanan kepada umat.

“Ekaristi itu adalah hidupnya seorang imam. Ada atau tidak ada umat, seorang imam tetap merayakan Ekaristi. Dalam konteks misa online, itu untuk menjawab kerinduan umat yang haus akan sebuah perjumpaan rohani dengan Allah,” Sosial Religius.

“Untuk kasus covid-19 ini akhirnya gereja memberi dispensasi khusus mengenai Ekaristi online itu. Artinya para uskup mempunyai kebijakan pastoral untuk semua umat beriman bisa mengikuti misa online.”

“Saat keputusan misa online ini ada surat resmi dari Bapa Uskup. Anjuran resmi Bapa Uskup ini kami teruskan kepada umat. Memang awalnya ada yang protes. Kenapa takut sama corona seakan gereja kurang beriman. Kita beri pemahaman kepada mereka.”

“Saya kursus satu hari untuk menguasai alat-alat itu. Misa pertama kali ada yang bantu siapkan alat, misa selanjutnya saya siapkan sendiri, pasang alat dan lain sebagainya. Tetapi jujur sih misa online itu enggak enak banget.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *