Garuda Tetap Tenang Hadapi COVID-19

Garuda Tetap Tenang Hadapi COVID-19

Garuda Tetap Tenang Hadapi COVID-19

Garuda Tetap Tenang Hadapi COVID-19 – Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Irfan Setiaputra mengungkapkan pendapatan perseroan turun hingga 90 persen akibat pandemi Covid-19. Pasalnya, perseroan kehilangan momentum puncak ramai penumpang (peak season) pada Lebaran tahun ini akibat Covid-19.

Kehilangan tersebut terjadi akibat larangan mudik yang diberlakukan pemerintah dalam rangka mencegah penyebaran virus corona.

“Jadi persoalan di Garuda hari ini adalah revenue (pendapatan) turun sampai 90 persen, jadi tinggal 10 persen,” ujarnya, Rabu.

Pandemi virus Corona (COVID-19) merupakan bencana bagi maskapai penerbangan. Salah satu maskapai yang merasakan dahsyatnya dampak COVID-19 ialah Garuda Indonesia. Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra mengatakan, saat ini pendapatan perusahaan anjlok hingga 90%.

“Jadi persoalan di Garuda hari ini adalah revenue turun sampai 90%, jadi tinggal 10%,” kata Irfan dalam webinar Jakarta Chief Marketing Club (CMO), Rabu.

Namun, menurut Irfan banyak orang yang mempertanyakan mengapa ia tetap tenang menghadapi dampak COVID-19 yang sangat serius itu. Ia pun membeberkan rahasianya.

“Saya orangnya tenang masalah di Garuda ini, karena sebenarnya saya nggak ngerti. Saya tenang karena saya bukan dari industri. Jadi buat saya ini problem. Mungkin kalau mereka yang di industri ini mereka malah babak belur, malah pusing,” ungkap mantan Dirut INTI (Industri Telekomunikasi Indonesia) tersebut.

Selain Lebaran, ia mengatakan Garuda pada tahun ini juga mendapatkan pukulan telah dari larangan ibadah umroh dan pembatalan ibadah haji. Perseroan juga tidak bisa meraih momentum libur anak-anak sekolah yang biasanya berlangsung di Juni-Juli.

Selain itu, kata dia, perseroan juga terpaksa memarkirkan (grounded) 70 persen pesawatnya. Bahkan, ia menuturkan perseroan terpaksa berebut dengan maskapai lainnya untuk memarkirkan pesawat di Bandara Soekarno Hatta.

“Sampai akhirnya kami harus memindahkan beberapa pesawat ke tempat lain. Dan kebetulan ada satu bandara yang tidak terlalu ramai yaitu Kertajati,” katanya.

Untuk diketahui, perseroan membatasi kapasitas penumpang pesawat untuk setiap penerbangan sebanyak 70 persen dari total muatan. Ini sesuai dengan aturan Surat Edaran (SE) Nomor 13 Tahun 2020 tentang Operasional Transportasi Udara dalam Masa Kegiatan Masyarakat Produktif dan Aman dari Covid-19. Kapasitas tersebut sudah dilonggarkan dari sebelumnya hanya 50 persen dari kapasitas.

Saat ini, Irfan tengah berupaya menyelamatkan Garuda dari keterpurukan, salah satunya dengan fokus pada lini usaha kargo. Menurut Irfan, Garuda sudah sangat lama hanya fokus pada penerbangan penumpang.

“Teman-teman di Garuda itu sangat menikmati, melayani, dan mengatur penumpang. Ini terlihat dari organisasi yang kita miliki, 90% dari organisasi yang ada Garuda ini mengurusinya pesawat dan penumpang, tinggal 10% yang mengurusinya kargo,” tuturnya.

Padahal, di tengah pandemi Corona ini layanan kargo sangat dibutuhkan. “Di tengah pandemi ini kargo ini biar bagaimana pun sebuah kebutuhan yang tak terelakkan. Pada waktu Pemerintah membatasi penerbangan, kita menyaksikan bahwa di banyak bandara itu kargo menumpuk dan situasi di mana barang-barang tersebut tidak bisa terdeliver dengan cepat ke tempat-tempat yang harusnya dituju,” ujar Irfan.

Kondisi itu membuat Irfan melihat peluang di tengah pandemi. Hingga akhirnya, kini Garuda memiliki pesawat khusus untuk pengiriman kargo.

“Jadi kita sangat fokus saat ini di kargo, Pemerintah mengizinkan kami Garuda dan juga teman-teman airlines lain untuk menggunakan pesawat penumpang menjadi pesawat kargo,” tutup Irfan.