Erick Thohir Buka Suara

Erick Thohir Buka Suara

Stafsus Erick Thohir Buka Suara Soal Mafia Alat Kesehatan

Stafsus Erick Thohir Buka Suara Soal Mafia Alat Kesehatan – Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menjelaskan mafia alat kesehatan yang sempat ‘disentil’ oleh Menteri BUMN Erick Thohir. Menurut Arya, industri alat kesehatan dalam negeri kekurangan bahan baku. Dari mulai APD hingga beberapa obat.

“Kita ada pabriknya tapi bahan bakunya dari luar negeri. Nah di Indonesia hanya sebagai tukang jahitnya pabrik APD ini. Orang yang dari LN ini hanya kasih bahan bakunya, bawa ke tukang jahit dia bayar dan dia ambil bahannya. Itu yang terjadi selama ini,” papar Arya pada Daftar IDN Poker 99, Jumat.

Sebelumnya, Oseltamivir digunakan dalam penanganan influensa. Selain itu, obat ini juga sempat dikenal sebagai obat yang dianjurkan untuk menangani flu burung.

“Sinergi dari tiga BUMN yang tergabung dalam holding farmasi ini, dapat menurunkan impor bahan baku farmasi atau Active Pharmaceutical Ingredients (API). Mengingat saat ini lebih dari dari 90 persen bahan impor farmasi masih diimpor dari luar negeri.

Dengan holding ini diharapkan produk farmasi dapat tersebar secara merata ke seluruh pelosok negeri, dan inovasi dari anggota holding farmasi untuk menciptakan suatu produk baru,” ujar Honesti melalui keterangannya, Jakarta, Jumat.

Hal ini tentu sejalan dengan tren kesehatan di masa yang mendatang yang tidak hanya terbatas pada pengobatan dan pencegahan saja. Melainkan industri kesehatan sudah mulai merambah kepada pelayanan kesahatan, termasuk pembiayaan melalui asuransi kesehatan.

Honesti melanjutkan, tujuan lain dari pembentukan holding ini adalah untuk menciptakan efisiensi dan kepastian ketersediaan supply bahan baku, sehingga akan dihasilkan harga produk yang terjangkau.

“Kemudian akan meningkatkan skala bisnis dan pembentukan holding BUMN farmasi ini merupakan milestone dalam rangka pembentukan ekosistem Healthcare di Indonesia, sehingga dari hulu ke hilirnya dapat dikelola semua dengan baik,” pungkasnya.

Kementerian BUMN RI telah mengesahkan beroperasinya Holding Farmasi di awal 2020. Holding farmasi terdiri atas tiga perusahaan BUMN yakni Bio Farma sebagai induk holding, yang beranggotakan PT Kimia Farma Tbk dan PT Indofarma Tbk.

Dengan itu dilihat ada mafia besar baik global

Kemunculan inisiatif pembentukan holding farmasi dilatarbelakangi oleh tren sektor kesehatan global di negara berkembang maupun negara maju. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang terbaik, diperlukan solusi yang lebih menyeluruh.

Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir mengatakan tujuan dari pembentukan holding farmasi ini untuk memperkuat kemandirian industri farmasi nasional, meningkatkan ketersediaan produk, dengan menciptakan inovasi bersama dalam penyediaan produk farmasi.

Begitu pula dengan Chloroquine yang dikabarkan bisa digunakan untuk pasien virus corona. Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan Chloroquine sebenarnya bukan obat pertama pada pertolongan corona, namun tetap bisa digunakan.

Maka dari itu, pemerintah sempat meminta BUMN untuk memperbanyak pasokan obat ini. Salah satunya Kimia Farma. “Pengalaman beberapa negara, Chloroquine digunakan dan banyak pasien covid-19 sembuh dan membaik kondisinya. Tapi memang obat covid-19 ini belum ada, dan juga belum ada antivirusnya,” ujarnya.

“Kita bisa buat obatnya, tetap bahan bakunya ternyata banyak dari luar negeri,” jelas Arya. Hanya saja, Arya mengatakan nantinya obat tidak akan dijual bebas, namun harus dengan resep dokter dan rujukan Kementerian Kesehatan. Untuk itu, obat ini diprioritaskan ke RS Rujukan BUMN yang menangani pasien virus corona.

Selain bahan baku Oseltamivir, Arya mengatakan Bio Farma juga mengimpor sekitar 1 ton Chloroquine dari India. “Nanti Bio Farma juga yang akan buat, distribusikan,” katanya. Jokowi mengklaim pemerintah memiliki stok Chloroquine sebanyak 3 juta tablet pada akhir Maret lalu. Namun, penggunaannya harus dengan resep dokter.

Dia pun menjelaskan Erick telah mengumpulkan beberapa perguruan tinggi, industri otomotif dan litbang untuk mencari solusi produksi ventilator.

“Nah, ternyata dalam tempo sebulan itu teman-teman UI dan ITV bisa membuat ventilator, meski ventilatornya bukan buat yang masuk ICU, tapi ventilator tahap awal. Artinya mampu bangsa kita sebenarnya mampu membuat,” ungkap Arya.

Dari beberapa kejadian tersebut, menurut Arya, Erick sempat menyatakan Indonesia sibuk dengan perdagangan tetapi tidak berusaha membangun industri dalam negeri untuk alat kesehatan. Sehingga, ketika wabah virus corona hadir, menjadi ujian sekaligus membuka mata.

“Dengan itu dilihat ada mafia besar baik global dan lokal yang bergabung yang akhirnya membuat kita hanya sibuk berdagang bukan produksi. Jadi ini jelas dari permintaan Jokowi berantas mafia dengan bangun industri lokal, industri farmasi sehingga bisa produksi sendiri apa kebutuhan kita,” papar Arya.

Menurut Arya, kejadian tersebut tidak hanya terjadi pada APD, tetapi juga masker medis dan peralatan ventilator. Semua perangkat tersebut impor. Selain itu, obat-obatan pun Indonesia baru membeli bahan baku dari India.

Kementerian BUMN menyatakan PT Bio Farma (Persero) akan memproduksi obat jenis Oseltamivir sebanyak 500 ribu tablet. Obat ini dipercaya bisa digunakan untuk pasien virus corona atau covid-19.

Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan bahan baku obat sudah didatangkan dari Hyderabad, India, sejak pekan lalu. Nantinya, usai diproduksi Bio Farma, obat akan didistribusikan ke pasien. “Obat ini untuk corona juga seperti Chloroquine. Tanggal 9 April kemarin kami ambil, ini memang diam-diam agar tidak bocor dan bisa proses cepat,” ungkap Arya, Rabu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *