Cathay Pacific Berencana PHK 5.900 Karyawan

Cathay Pacific Berencana PHK 5.900 Karyawan

Cathay Pacific Berencana PHK 5.900 Karyawan

Cathay Pacific Berencana PHK 5.900 Karyawan, – Cathay Pacific bakal memangkas 5.900 pekerjaan. Tak hanya itu, mereka juga menutup anak usahanya, Cathay Dragon.

Mengutip http://downloadjoker123.org/, Rabu, hal itu terjadi seiring melambatnya industri penerbangan akibat krisis yang disebabkan pandemi Covid-19. Maskapai juga disebutkan akan mengupayakan perubahan ketentuan dalam kontrak dengan pilot dan awak kabin, sebagai bagian dari restrukturisasi yang akan menelan biaya 283,9 juta dolar AS (Amerika Serikat).

Pandemi global (Covid-19) terus berdampak buruk pada penerbangan dan kebenaran yang sulit adalah kita harus secara fundamental merestrukturisasi grup untuk bertahan hidup – kata Kepala Eksekutif Cathay Augustus Tang dalam sebuah pernyataan.

Maskapai Hong Kong, Cathay Pacific pada Rabu, berencana untuk memangkas 5.900 karyawan lantaran terdampak pandemik COVID-19. Selain itu, mereka juga akan menutup anak usahanya maskapai ber-budget rendah Cathay Dragon.

Dilansir dari kantor berita Reuters yang mengutip pernyataan manajemen Cathay Pacific, rencananya mereka akan memangkas 8.500 posisi atau 24 persen penghitungan jumlah kepala. Artinya, itu termasuk 2.600 posisi yang saat ini belum terisi lantaran efisiensi biaya.

“Pandemik secara global ini terus memberikan dampak yang menghancurkan dan kenyataan yang paling sulit kami harus melakukan restrukturisasi secara fundamental untuk bertahan,” ungkap petinggi Cathay Pacific, Augustus Tang dalam sebuah pernyataan tertulis.

Akibat pengumuman tersebut, saham Cathay Pacific langsung anjlok 7 persen di awal pembukaan perdagangan di bursa saham. Seorang pialang mengatakan pengumuman itu malah menghilangkan kelebihan utama di saham.

Manajemen Cathay Pacific membukukan kerugian HK$9,9 miliar pada semester pertama 2020

Cathay Pacific mengalami nasib serupa seperti maskapai besar lainnya di dunia dalam menghadapi pandemik COVID-19. Mereka merugi besar akibat jumlah penumpang yang merosot drastis.

Berdasarkan laporan Bloomberg, perusahaan membukukan kerugian 9,9 miliar dolar Hong Kong pada semester pertama 2020. Manajemen Cathay sempat menyatakan tidak akan mampu bertahan kecuali menyesuaikan penerbangannya dengan pasar perjalanan yang baru.

Jumlah penumpang Cathay Pacific mengalami titik terendah pada April dan Mei 2020 lalu. Angkanya hanya 500 penumpang per hari. Sementara, pada September 2020, angkanya mengalami penurunan hingga 98,1 persen bila dibandingkan pada periode yang sama pada 2019.

Pemerintah Hong Kong akhirnya membantu dengan memberikan insentif senilai HK$5 miliar pada Juni 2020 lalu. Tetapi, hal itu tidak terlalu banyak membantu. Sebab, per bulannya mereka kehilangan dana senilai 1,5 miliar dolar Hong Kong hingga 2 miliar dolar Hong Kong per bulannya.

Dengan adanya restrukturisasi menjelang 2021, manajemen berharap bisa membendung uang yang keluar mencapai 500 dolar Hong Kong juta per bulannya. Meski pemotongan gaji bagi para petinggi Cathay Pacific masih tetap terjadi.

Asosiasi Transportasi Internasional memprediksi lalu lintas penumpang akan membaik pada 2024

Sementara, Asosiasi Transportasi Internasional (IATA) memprediksi lalu lintas penumpang akan kembali sebelum masa pandemik pada 2024 mendatang. IATA bahkan meleset dalam membuat prediksi mengenai penurunan jumlah penumpang secara global pada 2020. Mereka memprediksi tahun 2020 akan terjadi penurunan hingga 55 persen.

“Lambatnya peningkatan ini menunjukkan pemulihan (lalu lintas penumpang) membutuhkan waktu yang lebih lama dari yang kami prediksi sebelumnya,” ungkap Direktur Jenderal IATA Alexandre de Juniac ketika memberikan keterangan pers pada Juli 2020 lalu.

Proyeksi yang menyeramkan itu menunjukkan banyaknya perjalanan bisnis yang ditiadakan. Artinya, banyak perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan akibat pandemik COVID-19. Selain itu, faktor lain yang berkontribusi yakni rendahnya rasa percaya dari konsumen lantaran khawatir masa depan pekerjaan mereka dan kegagalan penanganan pandemik COVID-19 di AS turut membuat calon penumpang menunda sementara waktu perjalanan mereka.