Blue Bird Bicara Masa Depan Bisnis di Tengah COVID-19

Blue Bird Bicara Masa Depan Bisnis di Tengah COVID-19

Blue Bird Bicara Masa Depan Bisnis di Tengah COVID-19

Blue Bird Bicara Masa Depan Bisnis di Tengah COVID-19, – Meski bisnis taksi tengah menghadapi tantangan dalam beberapa tahun terakhir, potensi pasar dari konsumen fleet di sektor usaha ini masih menarik bagi agen pemegang merek (APM).

Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM) Anton Jimmi Suwandy mengatakan bahwa penjualan mobil yang digunakan untuk taksi seperti Transmover dan Limo meningkat dalam 3 tahun terakhir.

Pandemik COVID-19 masih membayangi Indonesia. Jumlah penderita virus corona kian melejit mencapai 4.000-an per hari. Vaksin belum ditemukan, sementara berbagai sektor terdampak gulung tikar satu per satu.

Banyak negara yang mengumumkan resesi lantaran tidak kuat menjaga pertumbuhan ekonomi. Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Upaya apa yang harus dilakukan untuk mempertahankan sektor bisnis di tengah pandemik?

Berikut hasil wawancara https://aeacap.org/ bersama Direktur Keuangan Blue Bird, Eko Yuliantoro. Wawancara ini dilakukan dalam rangkaian Indonesia Millennial Report 2020 yang akan diluncurkan saat acara Indonesia Millennial Summit (IMS) 2021 mendatang.

Apa tanggapan terhadap kebijakan ekonomi yang diterapkan pemerintah selama pandemik?

Baik, ini pendapat pribadi, ya, bukan representasi pendapat perusahaan. Memang situasinya tidak mudah, atau tepatnya malah sangat sulit ya, karena memang pandemik ini tidak pernah terjadi sebelumnya, setidak-tidaknya di era moderen lah. Menurut saya, memang kesulitan yang dihadapi di Indonesia ini karena memang otoritasnya itu tidak satu tangan seperti katakanlah di Tiongkok.

Pemerintah pusat punya kewenangan sendiri, pemerintah daerahnya juga punya, bahkan sampai ke kota, sampai kabupaten, dan sebagainya. Jadi masing-masing bisa menerapkan kebijakan sendiri-sendiri yang kadang-kadang tidak selaras.

Situasinya memang sulit. Tetapi secara politik menurut saya arah kebijakannya sudah oke, sudah benar. Kemudian ada plan yang diketuai oleh Menteri BUMN dan tim-tim lain yang dibentuk. Hanya mungkin pelaksanaan di lapangannya, ya, masalah koordinasi dengan pemda-pemda. Kedua, masalah disiplin, jadi envorsibility dari ketentuan-ketentuan itu gak jalan, hanya sporadis lah menurut saya. Kurang tegas ya.

Sejauh ini, bagaimana dampak COVID-19 terhadap sektor transportasi seperti Blue Bird?

Memang situasinya tidak gampang dan untuk bisnis itu konsekuensinya sangat berat. Contohnya yang paling gampang mati duluan, ya, transportasi. Blue Bird salah satu yang terdampak. Saya pikir hampir semuanya terdampak ya, tapi sekali lagi kita di sini berusaha untuk bertahan dengan segala cara. Saya pikir perusahaan-perusahaan lain juga begitu.

Khusus untuk Blue Bird, saya musti sampaikan kondisinya relatif sehat dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan lain. Kita gak tahu kapan krisis ini berlalu, makanya investor atau pun pengusaha itu tidak terlalu suka dengan yang namanya ketidakpastian.

Sekarang yang bisa kita lakukan adalah menjaga posisi kas sepanjang mungkin. Ya tentunya ada ekspetasinya, ya. Makanya kalau saya pribadi melihat bahwa budget dari pemerintah atau APBN dari pemerintah pusat khususnya itu juga agak berat. Oleh sebab itu kemarin DKI Jakarta mau PSBB kedua, kan, ada imbauan-imbauan untuk jangan terlalu ketat.

Ya, kalau gak, pasti (bisnis) akan semakin terpuruk. Semakin panjang pandemik ini, makin terpuruk. Bagaimana pun orang kalau mencari makan ya gak peduli itu, yang penting bisa makan. Kalau sakit bagaimana, ya sudah nasib, kira-kira begitu. Tapi kalau masalah makan kan gak bisa (ditunda).